Nurdin Abdullah Dalam Kontroversi “Antara Cinta dan Benci”

    Kamis, 4 Maret 2021 | 12:22 WITA

    Oleh: Waid Amin

    NURDIN ABDULLAH, khususnya dimata masyarakat Bantaeng, adalah sosok yang merakyat, kalem, murah senyum, mudah bergaul. Sewaktu menjabat Bupati Bantaeng (2008 – 2018), banyak prestasi pembangunan yang ditorehkan sehingga dia disanjung dan dicintai oleh masyarakat.

    Salah satu kebiasaannya sebelum memulai akrivitasnya sebagai Bupati, dia sibuk menerima masyarakat yang datang ke kediamannya di Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bissappu. Bermacam-macam hajat masyarakat yang disampaikan kepadanya dan semuanya ditindaklanjuti.

    – Menolak Jadi Bupati
    Nurdin Abdullah yang kemudian populer dengan singkatan NA, pada awalnya tidak tertarik menjadi Bupati. Kala itu, dia menjabat Presiden Direktur PT Maruki Internasional yang berkantor di KIMA.

    Tahun 2000, sejumlah tokoh masyatakat Bantaeng termasuk pengurus DPD Partai Amanat Nasional setempat, berkunjung ke kantor PT Maruki Internasional untuk menemui NA. Delegasi ini dipandu kerabat NA dari Kerajaan Bantaeng, diantaranya, Nasrun Amrullah dan Abdul Latif Karaeng Latippa.

    Delegasi PAN terdiri antara lain, KHM Nuh Khaeruddin, Abdul Waid Amin, Muh Ishak Hasan, Muh Arasy Pakkanna, Akbar, Andi Syamriadi Latippa. Delegasi ini membujuk NA agar kembali ke Bantaeng untuk menjadi Bupati.

    Dalam pertemuan tersebut, NA didampingi ayah mertuanya, Prof Dr Fachruddin (mantan Rektor Unhas). Dengan mengenakan kemeja putih berbalut jaket jeans dipadu celana jeans warna biru, dengan rendah hati NA menolak. Dia mengaku masih fokus memanej perusahaan yang berkiblat ke Negeri Sakura, Jepang.