Nurdin Abdullah Dalam Kontroversi “Antara Cinta dan Benci”



Nurdin Abdullah saat membagikan THR setiap bulan Ramadhan kepada salah seorang tukang becak.
Nurdin Abdullah saat membagikan THR setiap bulan Ramadhan kepada salah seorang tukang becak.

– Tukang Becak Siapkan Kendaraan
Waktu terus berputar. Jelang pilkada bupati 2008, masyarakat intens menemui NA di Makassar. Tujuannya hanya satu, membujuk NA agar bersedia maju di pilkada.

Desakan bertubi-tubi terus berdatangan siang dan malam. NA berada simpang jalan, antara mengiyakan permintaan masyarakat Bantaeng atau tetap menjadi seorang Presiden Direktur di perusahaan yang bertaraf internasional itu.

Salah satu alasan NA belum mengiyakan, karena tidak ada kendaraan politik yang akan ditumpangi menuju kancah pilkada bupati. “Saya tidak punya kendaraan”, ucapnya.

Pernyataan NA langsung disambut oleh salah seorang tukang becak yang ikut di dalam rombongan tersebut. “Punna tanre kendaraannta Karaeng, niakja becakku (kalau masalah kendaraan, tidak usah dipikir Karaeng. Saya punya becak siap Karaeng tumpangi ke Bantaeng)”.

Suasana yang tadinya tegang, pecah seketika oleh gelak rawa yang menggelitik akibat pernyataan seorang tukang becak yang sangat menginginkan NA memimpin Bantaeng.