Diduga Sunat Gaji Tukang Sapu, Kepala DLH Bantaeng : Kami Tidak Semena-Mena Itu

Sabtu, 7 Maret 2020 | 0:08 WITA

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

MellekNews.Id, Bantaeng – Adanya keluhan dari salah seorang tukang sapu terkait pemotongan gaji mereka membuat kepala dinas lingkungan hidup kabupaten Bantaeng, Haji Abdullah Taobe angkat bicara.

H. Abdullah Taobe mengatakan kalau tidak akan pernah ada 5indakan semena-mena sepeti itu kepada pegawai atau honorernya.

Dirinya tidak membenarkan adanya pemotongan gaji tanpa alasan terhadap salah satu pekerja yang jadi bagian tanggung jawabnya. Sebagaimana yang belakangan diisukan dan jadi wacana perbincangan .

Sudah dipanggil dan diminta buku rekeningnya biar dilihat dan dijelaskan bagian mana yang tidak dipahami.

“Saya sudah 11 tahun menjabat, tidak pernah ada kejadian seperti itu, saya berani pertaruhkan jabatan kalau ada hak orang disalahgunakan di sini,” kata Abdullah l, Senin, 2 Maret 2020.

Menurut Abdullah, sosok Daeng Tinggi alias Kullu, tukang sapu di area kelurahan Lemvang yang bercerita bahwa gajinya dipotong, dari nominal 1,3 juta menjadi 900 ribu rupiah perbulan tidak sepenuhnya benar.

Ia menyayangkan adanya pengakuan dan cerita miring yang beredar dan mendiskreditkan dinas Lingkungan Hidup tanpa ada konfirmasi.

Menurutnya, sangat rumit jika ada pemotongan yang mungkin dilakukan oknum tertentu karena pada dasarnya penggajian menggunakan sistem non tunai.

“Sedangkan dulu pada saat masih terima gaji sistem tunai tidak ada kasus seperti itu, apalagi kalau sudah non tunai,” ujar Abdullah.

Terkait soal berkurangnya pendapatan tukang sapu memang bisa saja terjadi. Hal tersebut sesuai dengan aturan kontrak kerja, dimana apabila pihak terkait memiliki pinjaman koperasi, tidak maksimal dalam bekerja, memang biasanya ada pemotongan upah.

Menurut informasi dari mandor atau pengawas di area tempat Kullu bertugas, ia memang dikenal kurang disiplin dalam bekerja.

“Ada laporan lengkap sama mandor, bagaimana dia bekerja, orang datang subuh dia datang jam 9, sering juga tidak masuk kerja, giliran ada tamu yang mau melintas otomatis cari bantuan pakai tenaga tukang sapu lainnya, nah gajinya dia otomatis terpotong masuk ke rekening tukang sapu yang menggantikan,” terang Abdullah.

Diketahui, tukang sapu di Bantaeng ada yang dihargai senilai 30.000 rupiah perhari, termasuk Kullu. Ia mendapat senilai standar upah tukang sapu, yakni 900 ribu rupiah perbulan.

Bisa jadi beberapa waktu sebelumnya ia pernah bekerja dengan giat sehingga mencapai nominal upah yang di atas rata-rata. Sehingga ia menjadi kecewa ketika angka tersebut bergeser.

Setelah mendapat kabar terkait isu tersebut, Abdullah mengaku pihaknya telah melakukan pemanggilan terhadap Daeng Tinggi alias Kullu untuk meminta keterangan langsung terkait pernyataannya.

“Sudah dipanggil dan diminta buku rekeningnya biar dilihat dan dijelaskan bagian mana yang tidak dipahami, tapi sampai sekarang belum ada nomor rekening yang disetor padahal kita mau cek,” tutur Abdullah.

Terkait miss komunikasi itu, Abdullah tidak ingin berlebihan dalam mengambil tindakan. Ia hanya menekankan pembinaan agar tidak terjadi lagi kesalahpahaman yang bisa berakibat fatal. (SHKM)