Terkait Bahan Bangunan Biang Kemacetan di Pasar, Diskumdag Bantaeng Akan Tindak Tegas

Senin, 27 September 2021 | 22:49 WITA
Penulis :
Bahan bangunan yang disimpan di badan jalan menuju terminal Bantaeng

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

BANTAENG, MELEKNEWS — Banyaknya pelaku usaha yang menggunakan trotoar dan badan jalan sebagai tempat penyimpanan barang dagangan menyebabkan kemacetan sering terjadi di jalan yang menuju pasar batu dan terminal Bantaeng.

Menyikapi hal tersebut Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan UMKM, Muh. Tafsir mengatakan kalau pihaknya telah melakukan pemantauan dan bahkan telah door to door secara persuasif menghimbau kepada para pelaku usaha tersebut untuk menyimpan barang daganganya di Gudang penyimpanan bukan di jalan.

“Kemarin kami telah turun kelapangan secara door to door menghimbau kepada para pelaku usaha agar jangan menyimpan barang dagangan di trotoar dan jalan” ucapnya saat ditemui di ruangannya Senin (27/9/2021).

Kadis Koperasi, Perdagangan dan UMKM Kabupaten Bantaeng, Muhammad Tafsir

Kadis juga menyampaikan kalau pendekatan persuasif ini juga belum di indahkan maka pihaknya bersama Tim akan kembali turun dalam waktu dekat untuk melakukan tindakan yang lebih tegas.

Diketahui sejumlah toko penjual bahan bangunan yang terletak di sebelah selatan pasar sentral Bantaeng menggunakan trotoar dan bahu jalan sebagai tempat penyimpanan barang dagangan seperti semen, Besi bangunan dan masih banyak lainnya.

Hal tersebut menyebabkan kemacetan di jalur itu setiap hari terjadi hingga para pengguna jalan resah dan mengeluhkan tindakan para pelaku usaha tersebut.

Bukan hanya itu, bahkan aktifitas bongkar muat barang yang menggunakan mobil angkutan truck makin menambah kemacetan.

Padahal diketahui bahwa jelas sekali aturan larangan penggunaan trotoar dan jalan sebagai tempat aktifitas perdagangan telah dituangkan dalam peraturan daerah (Perda) No.7 tahun 2012 dan peraturan Bupati (Perbup) Bantaeng nomor 43 tahun 2003 yang mengatakan Dilarang keras berjualan menggunakan trotoar/ bahu jalan

Selain itu juga dalam penggunaan jalan atau penutupan jalan untuk berdagang/berjualan tidak diatur dalam Undang-undang, maka UU LLAJ mengatur mengenai sanksi pidana jika terjadi gangguan fungsi jalan dan fasilitas pejalan kaki (trotoar),

Di antaranya diatur dalam, Pasal 274 ayat (1), “Setiap orang yang melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan dan/atau gangguan fungsi Jalan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 24 juta.”

Selain UU LLAJ, dasar hukum lain yang mengatur mengenai penggunaan jalan untuk kegiatan di luar fungsi jalan, yaitu UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (UU Jalan).

Dalam UU Jalan diatur beberapa sanksi pidana sehubungan dengan ‘melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan’.

Di antaranya seperti diatur dalam Pasal 63 ayat (1), “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang manfaat jalan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 18 (delapan belas) bulan atau denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah)