Ibu Rumah Tangga Diduga Bunuh Diri

Rabu, 3 Februari 2021 | 18:25 WITA
Penulis :
Gambar ilustrasi

JENEPONTO, MELEKNEWS — Warga Dusun Lassang Te’ne, Desa Bungung Loe, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Rabu (3/2/2021), sontak geger atas kematian ibu rumah tangga paruh baya.

Kerabat dan tetangganya tidak menyangka kalau S (45) nekat mengakhiri hidupnya dengan cara menenggak racun rumput yang daya bunuhnya sangat cepat. Dia diduga menenggak racun tersebut karena tak jauh dari korban petugas menemukan botol racun merek gramoxone.

Salah seorang kerabat korban S Dg Rate, mengaku belum mengetahui penyebab korban berbuat nekat. Dia juga tidak tahu jam berapa S melakukan aksinya. “Saya tidak tahu”, ucapnya.

Ketika terbangun, Dede, suami korban tidak melihat isterinya. Namun dia sama sekali tidak curiga malapetaka menimpa isterinya. Hal ini dikarenakan, S sudah terbiasa bangun dipagi buta dan beraktifitas layaknya ibu rumah tangga.

Sang suami bangkit dan melangkah menuju pintu lalu menuruni anak tangga rumah panggungnya. Ketika tiba di kolong rumah, pukul 05 lewat beberapa menit, Dede terperanjat melihat tubuh isterinya tergeletak. Dia lalu berteriak memanggil anaknya. Tak berpikir lama, dia bersama anaknya membawa isterinya ke Puskesmas Tolo untuk mendapatkan pertolongan.

Sang suami bersama anaknya sudah berupaya menyelematkan nyawa sang isteri, tapi takdir berkehendak lain. Pukul 08.00 WITA, petugas medis menyatakan S telag meninggal dunia. Seketika itu juga, keheningan di ruangan tempat S dirawat pecah akibat jeritan tangis pilu dari sang suami dan anak almarhumah

Dede tampak terguncang akibat kejadian ini. Tulangnya serasa remuk menyaksikan sang isteri tercinta meregang nyawa. Dia tidak menyangka hidup isterinya berakhir di mulut botol racun rumput yang ganas dan mematikan. Usai dinyatakan meninggal, jenazah S dibawa kembali ke rumah duka untuk disemayamkan.

Kasubag Humas Polres Jeneponto, AKP Syahrul, kepada wartawan, membenarkan telah terjadi dugaan kasus bunuh diri atas nama S. Kata dia, petugas meminta kepada keluarga korban agar diizinkan diotopsi guna mengetahui secara pasti penyebab meninggalnya korban.

Namun, kata Syahrul, keluarga korban menolak otopsi dan menyatakan telah merelakan kepergian korban untuk selama-lamanya.