BANTAENG, MELEKNEWS.ID — Pemerintah Republik Indonesia sejak 2020 silam telah menyetop ekspor bahan mentah nikel. Hal ini terbukti mampu mendorong hilirisasi industri dan mendongkrak keuntungan bagi negara.
Terkait hal itu, Direktur HBIP Lily Dewi Candinegara menegaskan bahwa potensi nikel di Indonesia semakin bisa dimaksimalkan, setelah adanya kebijakan setop ekspor tersebut.
Lily menjabarkan, dahulu nikel kerap kali dilakukan ekspor besar-besaran. Namun kini, Indonesia berupaya menyetop ekspor tersebut guna pengolahan secara mandiri.
“Nikel atau biji besi yang kita miliki selama ini selalu diekspor tak henti-hentinya, sehingga pemerintah pusat kemarin mencoba menyetop ekspor biji nikel ke luar negeri,” katanya saat didapuk menjadi narasumber dalam kegiatan Badko HmI Sulselbar pada Sabtu (23/9/2023) lalu.
“Hal ini disengaja agar negeri kita bisa mandiri dalam mengolah biji nikel tersebut menjadi barang yang siap jadi dan berguna,” tambahnya.
Lily menyebut, hilirisasi yang tengah dijalankan pemerintah saat ini, yakni adanya upaya pengolahan nikel menjadi produk “Made in indonesia”.
“Semoga kedepannya berbagai produk yang bahan bakunya bermula dari nikel akan berlebel buatan Indonesia. Saya tekankan bahwa kemandirian dalam melihat potensi SDA kita, itu sangat penting kedepannya,” jelasnya.
Seperti diketahui, dalam berbagai kesempatan, Presiden Jokowi selalu mendorong penghentian ekspor nikel dalam bentuk mentah atau raw material dan mendorong hilirisasi industri.
Dampaknya, industri di dalam negeri berkembang dengan cepat dan hilirisasi industri bisa terjadi dengan sangat cepat juga.
“Karena memang tidak ada pilihan, yang ingin mengambil, membeli bahan mentah kita sudah tidak bisa lagi,” jelas presiden Jokowi sebagaimana mengutip laman resmi Kominfo RI.
“Artinya, mau tidak mau harus mendirikan industri di Tanah Air sehingga kita tidak ekspor lagi yang namanya bahan mentah yang sudah berpuluh-puluh tahun kita lakukan tanpa memberikan nilai tambah yang besar kepada negara,” jelas Jokowi. []







