Gunung Karama’ Terbelah, Disuap Emas dan Kerbau



 

 

Terbukti, kata Nurdin, ketika emas dan beberapa ekor kerbau terkumpul, Karaeng Pabaung mendekat lalu memasukkan emas dan kerbau tersebut ke dalam belahan gunung. Seketika itu juga, belahan gunung tersebut langsung tertutup seperti tidak pernah terbelah.

Kesaktian Karaeng Pabaung dipercaya sebagai tameng bagi penduduk sekitar. Walau tokoh sakti tersebut telah tiada, namun penduduk tetap mempercayai bahwa karena kesaktian Karaeng Pabaung, gunung di kawasan hutan Karama’ tidak pernah lagi terbelah.

Dikemukakan Kades, Karaeng Pabaung meninggal dunia pada tahun 2012 lalu dan dimakamkan di salah satu titik yang diyakini sebagai pusat bumi di Panjang Selatan, Desa Labbo.

Dituturkan Sirajuddin dari pengakuan Nurdin, bahwa masyarakat Panjang di kawasan hutan Karama’ mempercayai ada tiga lubang yang mengeluarkan angin di tiga tempat yang berbeda tapi saling berhubungan satu sama lain.

Satu lubang yang sangat dalam terletak di Panjang Selatan (tempat peristirahatan terakhir Karaeng Pabaung), satu di dalam hutan Karama’, dan satu lainnya di Batu Pattiyya ri Ganting (batu berbentuk peti) di Kampung Ganting.

Namun, kata Nurdin, satu lubang sudah ditutup, yaitu dekat pusara Karaeng Pabaung. Dua lainnya masih terbuka dan masih terdengar hembusan angin dari mulut lubang.

Dikatakan Kades, tidak ada penduduk yang mengetahui persis dimana letak emas dan kerbau yang dimasukkan ke belahan gunung karena tidak ada sama sekali bekas pernah terbelah. Padahal, ketika gunung tersebut terbelah, penduduk mendengar suara gemuruh. “Ya, namanya tempat angker, kan berhubungan dengan masalah gaib. Tentunya keanehan-keanehan yang terjadi, tidak dapat dicerna akal”, ucapnya.