Belum Selesai Covid-19, Kini Muncul Virus Baru Yang Lebih Ganas

Jumat, 29 Januari 2021 | 14:05 WITA
Penulis :
Gambar Ilustrasi

MELEKNEWS — Belum selesai permasalahan Covid-19 ditangani Kon Para peneliti kembali menemukan satu jenis virus baru yang namanya disebut Nipah (NIV) yang ganasnya lebih berbahaya daripada Corona virus.

Saat ini para peneliti senior di Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre di Thailand, Supaporn Wacharapluesadee,

Para ilmuwan tersebut terus berusaha bergerak cepat mencari solusi Agar virus yang baru ini tidak menyebabkan munculnya Pandemi salanjutnya.

Dilaporkan virus Nipah ini menyebabkan kematian yang sudah mencapai 75 persen dan saat ini belum ada vaksin.

Ada beberapa fakta yang menjadikan virus Nipah lebih seram dari pada virus COVID-19.

Masa inkubasi penyakit yang disebabkan oleh virus ini dilaporkan selama 45 hari dalam satu kasus. Berarti ada banyak kesempatan bagi inang yang terinfeksi, bahkan tidak sadar mereka sakit, sehingga dapat menyebarkannya.

Menurut catatan WHO, virus Nipah dapat menular ke manusia dari hewan (seperti kelelawar atau babi), makanan yang terkontaminasi, dan juga dapat ditularkan langsung dari manusia ke manusia.

Seseorang yang terinfeksi virus Nipah mungkin mengalami gejala pernapasan, termasuk batuk, sakit tenggorokan, kelelahan, radang otak, pembengkakan otak yang dapat menyebabkan kejang dan kematian. Ini adalah penyakit yang ingin dicegah oleh WHO agar tidak menyebar.

Sebelumnya Wacharapluesadee menemukan fakta bahwa kelelawar bisa menimbulkan ancaman baru, seperti penyakit mematikan lainnya yang dapat menular ke manusia atau zoonosis seperti halnya COVID-19.

Wacharapluesadee menjelaskan bahwa wilayah Asia yang tropis dan memiliki keanekaragaman hayati merupakan rumah bagi kumpulan besar patogen, sehingga akan meningkatkan kemungkinan munculnya virus baru.

Meningkatnya populasi manusia dan tingginya kontak antara manusia dengan hewan liar di wilayah Asia juga meningkatkan faktor risiko.

Menyikapi ancaman virus baru tersebut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau kepada semua pihak terkait agar mewaspadai potensi penyebaran virus nipah ke Indonesia

Hal tersebut disampaikan melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes RI, Didik Budijanto

Dia mengatakan kalau saat ini Indonesia harus selalu waspada terhadap potensi penularan virus nipah dari hewan ternak babi di Malaysia melalui kelelawar pemakan buah

“Kita harus waspada dengan penyebaran virus baru ini” ucapnya, Rabu (27/1/2021).

Walaupun kejadian akan adanya terinfeksi virus nipah belum pernah dilaporkan di Indonesia, namun pada tahun 1999 pernah terjadi wabah virus nipah yang menyebabkan kematian pada ternak babi dan manusia di Semenanjung Malaysia.

“Kita di Indonesia harus selalu waspada terhadap potensi penularan virus tersebut dari hewan ternak babi di Malaysia melalui kelelawar pemakan buah, karena dari beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya kelelawar buah yang bergerak secara teratur dari Semenanjung Malaysia ke Pulau Sumatera, khususnya Sumatera Utara yang berdekatan dengan Malaysia” jelasnya.

Menurutnya akan ada kemungkinan penyebaran virus nipah melalui kelelawar atau melalui perdagangan babi yang ilegal dari Malaysia ke Indonesia.

“Jadi ada kemungkinan kita akan tertular melalui kelelawar atau perdagangan Babi yang ilegal dari malaysia” kata Didik. Dikutip dari Antara.

Untuk itulah pemerintah berupaya mencegah perdagangan ternak babi ilegal dari daerah yang terinfeksi. termasuk memperketat aturan ekspor dan impor komoditas babi dan produk lainnya yang berasal dari Malaysia.

“Menurut Kedutaan Besar Indonesia di Malaysia, pemerintah Indonesia hanya menerima kiriman yang disertai dengan sertifikat kesehatan dan dikeluarkan oleh Departemen Layanan Hewan Malaysia untuk menyatakan bahwa babi yang diekspor sehat,” tuturnya.

Selain itu pemerintah juga melakukan pendekatan One Health di mana bukan hanya Kemenkes saja yang berperan tetapi upaya pencegahan juga dilakukan secara terintegrasi dengan Kementerian Pertanian, dalam hal ini Dirjen Peternakan dan kesehatan Hewan, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Implementasi pendekatan One Health ini adalah salah satunya Integrasi Sistem Informasi Surveilens antara Kemenkes, Kementan dan LHK. Di samping itu juga melakukan kolaborasi dalam perencanaan, pelaksanaan sampai evaluasi program pencegahan penanggulangan penyakit,” ungkapnya. (QAILA)