Hasil Pantauan Balang Institute, Ternyata Banjir di Bantaeng Disebabkan Oleh ini

Senin, 22 Juni 2020 | 17:14 WITA

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia
Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia

Bantaeng, MELEKNEWS – Penyebab banjir yang melanda kabupaten Bantaeng pada Jum’at 12 Juni 2020 lalu sampai saat ini masih diperbincangkan oleh sekololmpok orang.

Pasalnya banjir tersebut telah mennelang korban jiwa dan merusak ratusan rumah warga dan bahkan ada beberapa yang rata dengan tanah.

Banjir yang meninggalkan lumpur dan kerugian material yang sangat besar. membuat Balang Institut terpanggil untuk melakukan pemantauan dilapangan dibeberapa sungai di Bantaeng yang airnya meluap dan menyebabkan banjir bandang di Bantaeng.

Organisasi NGO yang bergerak dibidang pemerhati lingkungan konservasi alam ini mulai bergerak sehari pasca banjir bandang di Bantaeng terjadi.

Direktur Balang Institute, Adam Kurniawan membeberkan penyebab terjadinya banjir di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini bukan hanya bobolnya Cekdam Balang Sikuyu semata.

Akan tetapi menurutnya ada beberapa hal lainnya yang menyebabkan terjadinya banjir yang membuat sejumlah desa dan kelurahan terendam air.

“Dari hasil Pantauan kami di lapangan penyebab banjir itu bukan hanya disebabkan bobolnya Cekdam Balang Sikuyu akan tetapi ada beberapa penyebab lain” ucapnya Sabtu (20/6/2020)

Adam menyebutkan kalau dibeberapa aliran sungai yang ada di Bantaeng itu meluap akibat hujan yang mengguyur dari siang sampai malam hari.

“Karena adanya penumpukan sampah yang membuat tersumbatnya aliran sungai, termaauk juga konstruksi bangunan yang sudah tak mampu lagi menahan bobot air serta Cekdam Balang Sikuyu yang bobol yang menyebabkan air meluap sampai kepemukiman” jelasnya

Hujan yang berlangsung sejak pagi hingga malam Jumat 12 Juni 2020 menyebabkan delapan sungai di hilir meluap. Hasil pemetaan Balang Institute yang dilakukan sehari setelah banjir menunjukkan wilayah yang terendam seluas 197 hektar, tersebar di Kelurahan Pallantikang, Tappanjeng, Malilingi, Bonto Rita, Bonto sunggu, Bonto Atu, Bonto Lebang dan Desa Bonto Jai.

“Oleh karena itu upaya untuk mengurangi potensi banjir dan dampaknya di bagian hulu itu harus dilakukan dengan penerapan agroforestri
terasering, pembuatan embung, rorak dan bipori,” beber Adam.

Sementara di bagian hilir mereka menawarkan dilakukannya normalisasi sungai dan memastikan kebersihan lingkungan.

Untuk diketahui, dari data yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantaeng terdapat 2.333 rumah yang terendam akibat banjir yang menerjang Kabupaten Bantaeng 12 Juni 2020 lalu. (SHKM)