
Yusdanar juga menyesalkan sikap Kadis Pertanian yang berimbas kepada pejabat lainnya. “Sebagai akibat dari ketertutupan Kadis Pertanian, berimbas kepada Kepala Kesbangpol. Kasian! Lain yang berulah, lain yang kena batunya”, sesal Yusdanar.
Kepala Kantor Kesbangpol Bantaeng, Anwar Hamido, ketika ditemui terkait demo “berkesinambungan” tentang kelangkaan pupuk, mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya antisipasi dini agar tidak ada gejolak di tengah-tengah masyarakat.
Namun, kata dia, karena pupuk merupakan salah satu kebutuhan vital petani, pihaknya tidak berbuat banyak sebab ada instansi teknis. “Kami sudah mengantisipasi agar tidak ada gejolak terkait kelangkaan pupuk. Mengenai solusinya, silahkan anda konfirmasi ke intansi teknis”, katanya.
Menyikapi masalah kelangkaan pupuk yang sudah seperti benang kusut ini, Yusdanar mengatakan, satu-satunya solusi adalah mencopot Kadis Pertanian dan memasang pejabat yang bisa bicara. “Kadis yang sekarang itu bisu dan tuli. Makanya harus dicopot dan memasang orang yang mulutnya bisa bicara dan telinganya mendengar”, tegasnya.
Oleh karena itu, kata Yusdanar, atas nama lembaga yang dipimpinnya, meminta Bupati Bantaeng sesegera mungkin mengganti Kadis Pertanian. Alasan dia, Kadis yang sekarang tidak mampu menyelesaikan masalah pupuk, padahal baru satu persoalan.
Bayangkan, lanjut Yusdanar, hanya masalah kelangkaan pupuk, Bupati sudah berulangkali didemo. Tahun 2020 sebanyak dua kali, yakni, Juli dan Desember. Karena aktivis tidak mendapat jawaban pasti, mereka kembali beraksi Januari 2021. “Kasihan pak. Bupati. Hanya karena satu persoalan yang tidak terselesaian, beliau didemo berkali-kali”, pungkasnya.







