BANTAENG, MN.ID— Kepedulian terhadap lingkungan tak cukup berhenti pada slogan. Pelajar harus didorong melahirkan inovasi dan aksi nyata untuk menjawab persoalan sampah serta menjaga kelestarian ekosistem. Pesan itu mengemuka dalam pembukaan Festival Generasi Hijau (FGH) Jilid III di SMA Negeri 1 Bantaeng, Kamis (8/10/2026).
Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, secara resmi membuka kegiatan yang berlangsung dari 8–10 Oktober 2026 tersebut. Festival yang digagas Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) SMAN 1 Bantaeng ini menjadi wadah bagi pelajar untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Mengusung tema “Nusantara Lestari, Semangat Muda Menjaga Ekosistem dan Kehidupan”, kegiatan ini diikuti peserta dari 15 sekolah tingkat SMA, SMK, dan MA di wilayah Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V yang meliputi Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai.
Kehadiran peserta lintas kabupaten memperlihatkan bahwa isu lingkungan menjadi tanggung jawab bersama yang perlu ditanamkan sejak bangku sekolah.

Ketua panitia, Asdar Syaputra, siswa kelas XI-7, melaporkan bahwa dari 15 sekolah yang mendaftar, tiga di antaranya berasal dari Kabupaten Bulukumba, yakni SMAN 12 Bulukumba, SMKN 10 Bulukumba, dan SMK TI Bulukumba. Sementara Kabupaten Sinjai diwakili SMAN 9 Sinjai, sedangkan sekolah lainnya berasal dari Kabupaten Bantaeng.
Menurutnya, festival ini dirancang untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di kalangan pelajar, sekaligus mempertahankan komitmen SMAN 1 Bantaeng sebagai sekolah berpredikat Adiwiyata Mandiri tingkat nasional.
Bupati Bantaeng mengapresiasi langkah SMAN 1 Bantaeng yang konsisten menghadirkan kegiatan bertema lingkungan.
Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga harus membentuk perilaku dan tanggung jawab peserta didik terhadap persoalan di sekitarnya.
“Inilah salah satu sekolah yang mengangkat tema khusus tentang lingkungan. Pendidikan itu memang menjadi dasar, tetapi perlu ada hal-hal lain seperti bagaimana kita bisa mengelola sampah,” ujar Fathul Fauzy Nurdin.
Pembukaan festival ditandai dengan aksi simbolis penyiraman bunga asoka oleh Bupati Bantaeng, didampingi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, H. Arafah, S.Pd., M.Pd., serta Kepala UPT SMAN 1 Bantaeng, Dr. Wahid Hidayat, S.Pd., M.Pd.
Aksi tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan sekaligus simbol ajakan merawat lingkungan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan.
Kepala UPT SMAN 1 Bantaeng, Dr. Wahid Hidayat, menyampaikan terima kasih atas kehadiran Bupati Bantaeng, jajaran pendidikan, dan seluruh pihak yang mendukung pelaksanaan festival. Ia menilai dukungan pemerintah daerah menjadi dorongan penting bagi sekolah untuk terus menjaga prestasi sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri.
Menurutnya, budaya peduli lingkungan yang tumbuh di sekolah juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap upaya Kabupaten Bantaeng mempertahankan dan meningkatkan capaian di bidang kebersihan serta pengelolaan lingkungan, termasuk dalam meraih penghargaan Adipura.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V, H. Arafah, S.Pd., M.Pd. Ia menilai pelaksanaan Festival Generasi Hijau sejak jilid pertama pada 2023 hingga edisi ketiga pada 2026 menunjukkan kesinambungan gerakan kreatif di lingkungan pendidikan.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berkompetisi dan mengasah kemampuan melalui berbagai ajang prestasi berjenjang, mulai dari tingkat sekolah hingga nasional.
Arafah secara khusus mendorong pelajar memanfaatkan kompetisi di bidang olahraga melalui Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), bidang seni melalui Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), serta bidang akademik melalui Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Menurutnya, berbagai ajang tersebut dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi, mengukur kemampuan, dan membawa nama baik sekolah maupun daerah.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menyiapkan lima cabang lomba untuk memperebutkan piala bergilir Festival Generasi Hijau. Kelima kategori tersebut meliputi Eksplorasi Lingkungan Inovasi Siswa (ELIS), Cipta dan Baca Puisi, Rancangan Usaha Inovatif, Poster Digital, serta Pertunjukan Busana Kreatif.
Seluruh kategori dirancang agar pesan pelestarian lingkungan dapat disampaikan melalui pendekatan ilmiah, kewirausahaan, sastra, seni visual, dan pertunjukan.
Melalui ELIS, peserta ditantang mengolah barang bekas menjadi karya inovatif yang dilengkapi laporan, video, dan meja pameran.
Sementara itu, lomba Rancangan Usaha Inovatif mendorong siswa menciptakan produk yang memiliki nilai guna sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan. Kedua kategori ini menempatkan kreativitas sebagai salah satu jalan untuk mengubah persoalan limbah menjadi peluang inovasi.
Pesan pelestarian lingkungan juga disampaikan melalui karya sastra dan seni. Dalam lomba Cipta dan Baca Puisi, peserta menuangkan gagasan serta kegelisahan tentang kondisi lingkungan melalui bahasa puitis. Pada kategori Poster Digital, siswa mengolah pesan kampanye lingkungan ke dalam karya visual, sedangkan Pertunjukan Busana Kreatif menantang peserta memanfaatkan limbah anorganik sebagai bahan rancangan busana yang diperagakan di atas panggung.
Pembukaan Festival Generasi Hijau Jilid III turut dihadiri Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan, Drs. H. Muslimin, MM., yang juga menjabat Ketua Komite SMAN 1 Bantaeng; Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, Muhammad Yusuf; Pengawas Pendamping, Dra. Hj. Nuraeti, MM.; para dewan juri; serta kepala sekolah dan perwakilan SMA, SMK, dan MA se-Wilayah V. Keterlibatan berbagai unsur tersebut mempertegas pentingnya kolaborasi pemerintah, sekolah, tenaga pendidik, dan pelajar dalam membangun budaya peduli lingkungan.
Festival Generasi Hijau Jilid III diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan maupun ajang perebutan piala. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran agar pelajar mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata, mulai dari memilah sampah, memanfaatkan kembali barang bekas, hingga membangun kebiasaan menjaga kebersihan di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Semangat “Nusantara Lestari” hanya akan bermakna apabila kepedulian tumbuh menjadi perilaku sehari-hari dan generasi muda mengambil peran nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.







