Sosok  

Dari Pekarangan Asrama ke Ketahanan Pangan, Mahasiswa UIM Asal Bantaeng Buktikan Ilmu Agribisnis Tak Sekadar Teori



Mahasiswa UIM, Achmad Agun ditengah kebun pertanian di asrama Putra HPMB

MAKASSAR, MN.ID – Di saat isu ketahanan pangan terus menjadi perhatian, seorang mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) asal Kabupaten Bantaeng menunjukkan aksi nyata dengan mengubah lahan pekarangan Asrama II Putra Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (HPMB) menjadi kebun hortikultura yang produktif dan bernilai manfaat.

Inisiatif tersebut digagas oleh Achmad Agung, mahasiswa Program Studi Agribisnis Semester 12 UIM. Sejak Mei 2026, ia mulai mengolah lahan kosong di lingkungan Asrama II Putra HPMB yang berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan KM 7, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar.

Lahan yang sebelumnya terbengkalai kini berubah menjadi kawasan budidaya berbagai jenis sayuran. Program itu tidak hanya bertujuan menghasilkan bahan pangan segar, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan bagi penghuni asrama sekaligus menjadi bukti penerapan ilmu agribisnis secara langsung di lapangan.

Agun sapaan akrabnya, mengatakan gagasan tersebut lahir dari keinginannya membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Menurutnya, lahan sempit sekalipun dapat dioptimalkan menjadi sumber pangan apabila dikelola dengan baik.

Di kebun tersebut, ia membudidayakan beragam komoditas hortikultura, seperti sawi pakcoy, kangkung, cabai ungu, kacang panjang, dan daun bawang. Seluruh proses budidaya dikerjakan secara mandiri, mulai dari pengolahan lahan, penyemaian benih, penanaman, perawatan hingga panen.

Teknik budidaya yang diterapkan juga mengacu pada ilmu yang dipelajarinya selama kuliah, termasuk pengelolaan media tanam, pemupukan, dan pemeliharaan tanaman agar mampu menghasilkan panen yang optimal serta berkualitas.

Upaya tersebut membuahkan hasil yang menggembirakan. Dalam satu kali masa panen, kebun hortikultura itu mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram sawi pakcoy dan 30 kilogram kangkung, yang kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan penghuni asrama.

Menurut Agun, hasil panen diprioritaskan untuk konsumsi mahasiswa yang tinggal di Asrama II Putra HPMB agar mereka dapat menikmati sayuran segar tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar.

Apabila kebutuhan asrama telah terpenuhi, hasil panen selebihnya dimanfaatkan untuk kegiatan sosial maupun dipasarkan.

Selain dikonsumsi penghuni asrama, sebagian hasil panen juga dibagikan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar asrama.

Langkah tersebut mendapat sambutan positif karena dinilai mampu mempererat hubungan antara mahasiswa dan warga melalui aksi sederhana yang memberikan manfaat langsung.

Untuk menjaga keberlangsungan program, sebagian hasil panen dipasarkan ke pasar-pasar kecil di kawasan Tamalanrea.

Pendapatan yang diperoleh kemudian diputar kembali sebagai modal membeli benih, pupuk, dan berbagai kebutuhan operasional kebun sehingga kegiatan budidaya dapat terus berjalan.

Bagi Agun, aktivitas tersebut menjadi pengalaman berharga dalam memahami dunia agribisnis secara utuh, mulai dari proses produksi, pengelolaan biaya, penentuan harga jual, hingga menjaga kualitas hasil panen agar mampu diterima konsumen.

Pengalaman itu menjadi bekal penting sebelum terjun ke dunia usaha pertanian.
Ke depan, Agun berkomitmen memperluas area tanam serta menambah jenis komoditas hortikultura agar produksi semakin meningkat.

Ia juga berharap lebih banyak mahasiswa HPMB ikut terlibat sehingga kebun asrama dapat berkembang menjadi program bersama yang berkelanjutan dan menjadi contoh bahwa ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah sederhana, bahkan dari pekarangan asrama.