MAKASSAR, MN — Wahid Hidayat resmi melangkah ke gerbang doktoral. Kandidat Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin ini mengikuti sidang yudisium setelah menuntaskan disertasi berjudul Audit Komunikasi Digital Supervisi Akademik di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Bantaeng. Karya ini bukan sekadar pemenuhan syarat akademik, melainkan kritik terbuka terhadap praktik supervisi pendidikan yang kerap terjebak euforia digital tanpa substansi.
Sidang yudisium berlangsung tegas dan bermartabat di lingkungan Universitas Hasanuddin. Forum akademik ini menjadi panggung pengujian serius atas gagasan dan ketajaman analisis disertasi yang ditawarkan Wahid Hidayat. Tidak ada ruang untuk basa-basi; yang diuji adalah relevansi, keberanian, dan daya dobrak ilmiahnya.
Tim penguji diisi akademisi lintas disiplin dengan reputasi kuat. Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., Psikolog tampil sebagai penguji eksternal, didampingi Prof. Dr. Muhammad Akbar, M.Si., Prof. Dr. Arianto, S.Sos., M.Si., dan Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si. dan Bertindak sebagai pimpinan sidang, Pembantu Dekan II Prof. Dr. Hasniati, S.Sos.,M.Si bersama Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. H. Muhammad Farid, M.Si. selaku sekretaris sidang dan ko-promotor, dengan penguatan akademik dari Prof. Dr. Jeanny Maria Fatimah, M.Si.

Inti disertasi Wahid Hidayat menohok praktik supervisi akademik yang selama ini mengagungkan teknologi digital seolah menjadi solusi tunggal. Penelitiannya menunjukkan fakta keras: digitalisasi tidak otomatis meningkatkan mutu supervisi jika komunikasi antar-manusia diabaikan.
Wahid menegaskan, supervisi yang efektif bukan soal aplikasi, dashboard, atau laporan daring yang rapi. Masalah utamanya justru terletak pada relasi supervisor dan guru yang kering empati, minim dialog, dan miskin kepercayaan. Teknologi, menurutnya, hanya alat, bukan penentu kualitas.
Dengan merujuk pemikiran Joseph A. DeVito tentang komunikasi interpersonal dan Manuel Castells tentang masyarakat jaringan, disertasi ini membongkar mitos bahwa konektivitas digital selalu identik dengan efektivitas. Tanpa dialog yang manusiawi, sistem secanggih apa pun hanya akan menjadi mesin administrasi yang dingin.
Dari kritik tersebut, Wahid merumuskan Model Supervisi Akademik Digital Interpersonal Hibrida. Model ini memaksa dunia pendidikan berhenti berkhayal tentang keajaiban teknologi dan kembali menempatkan komunikasi tatap muka, empati, dan relasi profesional sebagai jantung pembinaan guru.
Gaung capaian akademik ini meluas melampaui ruang sidang. Papan ucapan selamat berjejer sebagai simbol dukungan, mulai dari Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Bantaeng M. Fathul Fauzy Nurdin, Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, hingga para kepala sekolah dan kolega.

Keluarga besar SMAN 1 Bantaeng turut hadir, menegaskan bahwa perjalanan doktoral Wahid Hidayat tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari praktik panjang di dunia pendidikan, dari ruang kelas, dan dari problem nyata supervisi di sekolah.
Disertasi ini diharapkan menjadi tamparan sekaligus rujukan bagi pengambil kebijakan pendidikan. Pesannya jelas: era digital tidak boleh mematikan nurani. Supervisi akademik harus cerdas secara teknologi, tetapi tetap tajam secara manusiawi.






