
Dikatakan Lurah, korban lazim menyimpan uang banyak di rumahnya. Dia pernah menyarankan agar Hajjah Te’ne menyimpan uangnya di bank.
“Beliau sering menyimpan uang dalam jumlah yang cukup banyak di rumahnya. Saya sudah menyarankan agar dia menyimpan uangnya di bank, tapi dia enggan. Alasannya, agak menyusahkan korban kalau tiba-tiba uangnya mau dibelanjakan”, papar Lurah.
Tentang motif pembunuhan, Lurah enggan berkomentar. Kata ini, itu ranahnya polisi. Hanya saja, dia mengungkapkan beberapa hal yang patut dijadikan salah satu dasar penyelidikan aparat kepolisian.
Apalagi, korban sudah tiga kali menjadi sasaran empuk pencuri, karena selain sudah renta, nenek Te’ne tinggal sendiri di rumah yang lumayan berukuran besar itu. “Ini kali ketiga Haji Te’ne menjadi sasaran pencuri yang kemudian akhirnya ditemukan meninggal di dalam kamarnya dengan tangan dan kaki terikat”, jelasnya.
Ditambahkan Lurah, berdasarkan informasi yang dia terima, sebelum ditemukan meninggal, korban baru saja menjual hasil panen sawahnya. Hanya saja, Lurah tidak tahu berapa banyak jumlah penjualan hasil panen tersebut. “Kalau jumlah rupiahnya, saya tidak tahu pasti”, pungkasnya.




