400 Kasus Perceraian di Bantaeng di Tahun 2020, di Dominasi Istri Gugat Cerai Suami

Sabtu, 23 Januari 2021 | 15:59 WITA
Penulis :

BANTAENG, melek news – Kasus perceraian di Kabupaten Bantaeng yang terjadi selama tahun 2020 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan oleh salah seorang Hakim di Pengadilan Agama Kabupaten Bantaeng, Kamaruddin Amri saat ditemui di ruangannya pada Jum’at (22/1/2021).

Dia menyebutkan kalau selama tahun 2020 ada sekitar 400 kasus perceraian yang terjadi di Kabupaten Bantaeng.

“Ada 400 kasus perceraian yang masuk di Pengadilan Agama Bantaeng selama tahun 2020, dan ini di dominasi dengan kasus Gugat cerai oleh pihak perempuan” ucapnya.

Hakim Pengadilan Agama Bantaeng, Kamaruddin Amri

Kamaruddin menjelaskan kalau kasus perceraian itu ada dua jenis namanya yakni gugat cerai ini disebut bila pihak perempuan yang meminta cerai dan Cerai Talak kalau pihak laki-laki yang mengajukan cerai.

Menurutnya dari 400 kasus perceraian di Bantaeng 40% itu masih berusia antara 19-25 tahun selebihnya diatas usia 25 tahun.

“40% yang mengajukan cerai itu masih berusia muda dan masih di dominasi pihak perempuan yang mengajukan gugat cerai suamunya” tuturnya.

Dia menuturkan kalau kasus perceraian yang ditanganinya selama ini penyebabnya itu bervariasi, ada karena faktor ekonomi, pertengkaran dan ada pula karena sudah lama ditinggal pergi.

“Penyebab perceraiannya itu yang paling banyak karena pertengkaran keluarga adapula karena Faktor ekonomi, selain itu ada karena munculnya pihak ketiga dan karena sudah lama ditinggal pergi” ungkapnya.

Menurutnya, Kalau dilihat dari umur mereka yang mengajukan perceraian maka bisa dikatakan usia mereka pada saat melangsungkan pernikahan itu masih terlalu dini.

“Pernikahan dini yang kerap dilakukan membuat pasangan tersebut sebagian besar masih labil dan belum siap mental mengarungi kehidupan rumah tangga” ucapnya.

Olehnya itu, Kamaruddin berharap agar masyarakat dalam menikahkan anaknya mempertimbangkan dulu beberapa aspek, bukan hanya dari segi fisik dan kemampuan keuangan semata.

“Seharusnya memperhatikan dulu beberapa faktor sebelum melangsungkan pernikahan termasuk masalah kesiapan mental calon pengantin” ungkapnya.

Untuk proses persidangan dalam kasus perceraian selama tahun 2020 itu pihaknya telah menyelesaikan sekitar 75% dari total kasus yang masuk.

“Sudah 75% kasus perceraian yang masuk di Pengadilan Agama itu sudah inkracht di tahun 2020 lalu dan selebihnya masih dalam proses” tuturnya. (Sahar).